View all :

Thursday, July 11, 2019

Romantic Rumi Story 7

Romantic Rumi Story 7

By : Rumi


Aku sedang duduk menunggu di ruang tamu kos kosan ku, hari itu minggu pagi aku dan dia berjanji untuk bertemu dan jalan jalan.
Kemana tujuannya aku tak tahu, yang aku tahu hari ini hanya berdua bersamanya menghabiskan waktu, aku rasa senang sekali hari ini perasaan ku menari nari. Tak pernah ku merasa seperti ini padahal aku sendiri tak tahu mau ke mana.



Hal Yang Baru dan Menarik

   Setengah jam aku menunggu dan dia pun datang, lalu aku beranjak menuju mobilnya dan masuk kedalam.
" sudah siap?" Tanya dia pada ku
" siap pak" jawabku ceria
" lalu mobil melaju ke arah ungaran, tempat yang dituju adalah bandungan,sebenarnya aku pernah ke sana tetapi itu sudah lama sekali,di awal aku mulai perkuliahan kalau tidak salah.

   " Kita ke bandungan " tanya ku pada nya
" iya, kenapa?" Tanya dia kembali pada ku
" nggak apa apa " jawab ku
" pernah ke sini?" Tanya dia kembali
" pernah dulu sih " jawab ku
" kapan?" Tanya dia kembali
" kalau enggak salah saat awal mulai kuliah " jawab ku
" owh...." jawabnya singkat.
Lalu kami terdiam, dia menatap jalan dengan cukup fokus karena memang jalanya berkelok dan ada beberapa bagian yang rusak.

   Sesampai di lokasi, mobil di parkir dan kami mulai berjalan ke luar lahan parkir.
" makan dulu yuk " pintanya pada ku
" ayuk, tapi enggak usah beli jajan ya " balasku
" kenapa ?" Tanya dia
" aku sudah beli kok semalam makanan ringan " jawab ku
" oke " balasnya singkat
Kami pun makan di sebuah warung bakso yang berada tak jauh dari lokasi parkiran.
Hawa dingin makan bakso, hmmm.....nikmat sekali fikir ku.
Sambil menikmati hidangan kami bercengkrama, saling berbagi cerita, cerita saat jarak memisahkan kami, saat masa lalu kami dan candaan nya yang membuatku tersenyum.

   Selesai menikmati bakso kami pun melanjutkan naik ke pusat pariwusatanya, ada kedung songo yaitu candi hindu kalo tidak salah karena bentuknya ramping dan mengerucut tajam, jika candi budha melebar dan terlihat sedikit oval.
Terus berjalan mengitari area bandungan, cukup melelah kan tetapi tak terasa karena bersama dia.
Selesai sampai di akhir lokasi pariwisata kami pun berniat balik ke tempat parkir, di tengah jalan aku hentikan langkah ku.
" pap" kata ku sambil menunjuk ke barisan tumpukan buah kelengkeng.
" apa?" Tamya dia pada ku
" mau itu pap " rengek ku seperti anak kecil
" lhuk....."
" kata nya enggak usah jajan?" Ketus nya
" ih...papa itu bukan jajanan "
" itu buah pap " jawab ku
" oh iya, benar itu buah "
" dh beli enggak apa apa " balas nya

   Aku membeli satu kilo buah kelengkeng, satu sisir pisang mas dan satu kilo tales.
" baru mudik ya mam ?"
" gak sekalian beli kelapa, beras dan labu mam " canda nya
Aku hanya bisa tersenyum kecil, " sekali kali pap beli kayak gini "balas ku.
Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju parkiran.
Dan aku melihat ada rengginang mentah dari ketan di jual, " pap " sapa ku lagi.
" ada apa ?" Tanya dia pada ku
" rengginang pap" balas ku
" hmm....kata nya gak jajan " balas nya
" itu belum matang pap, harus di masak dulu " jawab ku
" wuih......hebat nya cari alasan " jawab nya
" lho pap lupa ?" Tanya ku
" lupa apa ?" Tanya dia kembali
" gurunya mama buat alasan kan papa"
" hayo...." canda ku
" oh iya, lupa papa "
" ya udah beli gih " balasnya
Dan aku pun membeli rengginang mentah dua bungkus, setelah membayar kami pun melanjutkan ke tempat parkiran.

   Sesampai di tempat parkiran kami masuk mobil dan melanjutka wisata kami, tujuan kedua adalah pantai maron, pantai yang berada di belakang bandara ahmad yani.
Sesampai di sana ku pikir hanya duduk duduk saja, tak taunya dia mengajak ku memancing.
Ternyata dia sudah persiapan untuk memancing, termasuk umpan dan alat pancing nya.
Seumur hidup aku tak pernah melakukan kegiatan ini, sama sekali aku tak tahu rasanya memancing. Bagiku pekerjaan memancing sangat membosankan karena hanya diam dan tak melakukan kegiatan yang berarti, itu yang ada di benak ku.

   Tetapi dia sekarang mengajak ku memancing, gak tanggung tanggung langsung di pinggir laut.
Mana udara panas, enggak ada tempat berteduh,hadewh.....kalau enggak gara gara dia males banget aku mancing.
Setelah sampai di lokasi mancing, hanya ada kami berdua yang memancing, harap maklum jam 13.00 mancing.....wew....!
Dengan cekatan dia mempersiapkan alat pancing dan memasang umpan, lalu di berikan pada ku.
Dan aku lempar saja sesuka ku karena memang aku tak tahu cara nya memancing.
Dia pun begitu juga, persiapkan alat dan umpan memancing lalu di lempar dekat dengan punyaku.

   Alhasil, punya dia di makan ikan tapi keci aku pun tertawa dan ku berkata " nie pap liat cara memancing ".
Terasa pancing ku di tarik dan ku angkat ternyata dapet yuyu ( sejenis kepiting darat ) tetapi kecil jg.
Kulihat papa tertawa, dengan tawa yang khas nya.
" sini papa kasih umpan dulu" kata papa sebelum ku lemparkan kail ku kembali.
Ku tunggu beberapa saat papa memberi umpan setelah selesai lalu papa mengajari ku cara melempar kail yang lebih jauh lagi.
" sini papa ajari cara melempar kail mam" kata papa pada ku sambil memegang tanganku dan mununjukan caranya.
Sentuhan tanganya membuat rasa panas matahari tiba tiba menghilang, semua terasa teduh tak terasa oleh ku panasnya matahari ini.

   " gitu caranya ya mam " kata papa
" iya pap" jawab ku
Selagi papa memasang umpannya dan belum sempat papa melempar kailnya, aku merasakan hentakan di joran ku, ini dapat ikan atau tersangkut sampah? Fikir ku
Lalu ku gulung kail ku, dapat setengah gulung hentakan di joran ku semakin kuat dan " pap dapet ikan besar pap" teriak ku ke girangan.
Tanpa fikir panjang kail yang akan di lempar papa hanya di taruh begitu saja dan umpan masuk kedalam air tanpa di lempar.
" pap dapet, mama dapet ikan pap" aku kegirangan mendapat ikan,
" iya mam, santai saja nggulungnya"
" pelan tetapi terus di gulung jangan berhenti"
" jangan kendur senarnya " begitu arahan papa
Alhirnya ikan pun terangkat dan ternyata aku mendapatkan ikan pari, lumayan besar sebesar velg sepeda motor.
Lalu papa lihat, ternyata kailnya tidak bisa di ambil, dan akhirnya papa memotong senar kali ku untuk melepas ikannya.

   Setelah terpasang kembali, aku melempar ke tengah lagi dan berharap mendapatkan ikan yang lebih besar lagi.
Setelah melihat ku sudah melempar kail, papa kembali mengambil jorannya untuk melempar umpan ke tempat yang lebih jauh.
Tak di sangka ternyata meski di pinggir, ada ikan yang memakan umpan papa setelah di angkat ternyata ikan sembilang yang ukurannya super jumbo.
"Besar sekali, papa hebat di pinggir saja bisa dapet sebesar itu apa lagi di tengah? " tanya ku
" ini mam kalau papa lempar ke tengah tadi dapet nya kapal selam" jawab papa sambil tertawa.
Selesai memasukan ikan di tempat papa mengajak aku untuk pulang.
" udah mam, yuk pulang " kata papa
" ntar napa pap, mam masih semangat mancing nie " balas ku
" udah cukup dapet dua ekor, gak akan dapat lagi setelah ini " kata papa
Meski berat hati akhinya aku dan papa berkemas untuk pergi dari pantai maron.

   Hari menjelang sore, waktu menunjukan jam 14.30 mobil berhenti di sebuah pemancingan berbayar, " papa mau mancing lagi ?" Tanya ku
" niat papa sih nyuruh pemilik kolam bakarin hasil kita "
" kan lumayan mam " jawab papa
" sip pap, mam boleh mancing lagi ya pap ?" Pinta ku
" mancing aja lagi nggak apa apa kok " balas papa
" asyik...." sahut ku

   Dan kami mencari tempat untuk duduk dan menunggu apa yang tadi kami inginkan. Sambil menunggu aku pun mulai memancing lagi.
Dapat ikan gurami, pancing lagi dapat lagi lagi dan lagi tak terasa sudah sepuluh ekor yang ku tangkap.
" mam, gak kebanyakan ?" Tanya papa
" gak, ntar papa bawa aja gak apa apa "
" mama hanya ingin rasanya dapat ikan aja " lanjut ku
" cukup mam, tuh wajah mama dah mulai memerah " kata papa
" nggak apa apa pap, biasa kok wajah mama merah.
" sangkal ku
makanan sudah jadi dan kami pun menyantap pari bakar dan sembilang bakar, dengan lahapnya kami berdua menghabiskan hasil memancing kami hari ini.

   Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 17.30 kami beranjak dari tempat pemancingan tersebut, lalu pulang menuju ke kos kosan ku.
Hari ini begitu menyenangkan, tak kusangka hal yang ku anggap membosankan ternyata cukup menyenangkan, dan aku ingin merasakan sensasi memancing kembali.
Semoga papa mengajak ku memancing lagi, hal baru yang benar benar baru.

 NEXT...


Other post 




Terimakasih dan 
Salam Hangat

Rumi

No comments:

Post a Comment

Terimakasih atas kunjungannya.
Salam hangat
Rumi