Romantic Rumi Story 8
By : RumiHubungan kami sudah berlangsung dua tahun lebih, tak terasa waktu berjalan begitu cepat.
Saat ini saat dimana aku menyelesaikan kuliah ku, ini semester terakhir dan aku harus lebih fokus lagi.
Semangatku semakin tinggi untuk menyelesaikan perkuliahan ku, dan dia begitu membantu dalam menyemangati ku.
Skripsi telah ku selesaikan, tes tofel telah ku jalani dan akhirnya waktu kelulusan ku pun tiba.
Hasil memuaskan,dan aku pun memakai baju Toga,baju yang selalu ada di benak ku.
Bersama kedua orang tuaku aku menghadiri hari wisuda ku.
Tetapi kebahagiaanku kurang lengkap karena dia tak hadir menemani ku, dia sedang berada di luar kota.
Selesai wisuda aku dan kedua orang tuaku kembali ke blora,dan aku melihat kebahagiaan terpancar dari raut wajah kedua orang tuaku.
Akhirnya Kecewa
Malam harinya kami bercengkrama sambil menikmati teh hangat buatan ibunda ku.Dan ada hal dari pembicaraan kami yang membuat aku kecewa.
Ibu menanyakan hubunganku dengan dia, aku jawab baik baik saja.
Lalu ibu memberikan pernyataan bahwa ibu tidak menyetujui hubungan kami, aku terkejut. Bagai petir di tengah terik panasnya matahari, mengapa?
Alasan ibu utarakan, dan ibu menyarankan mencari yang lebih baik dari nya,tetapi aku lebih mengetahui segala hal tentang dia.
Baik buruk nya, rahasia dan sebagainya kami telah benar benar terbuka.
Kami tak ingin hubungan kami hanya sebatas bercanda senda gurau belaka, kami ingin lebih serius lagi.
Dan aku menjawab peryataan ibu dengan pernyataan juga, bahwa pilihanku terakhir hanya satu, dia!.
Ibu terdiam dan menatapku dalam, aku sendiri tak pernah membantah apa yang ibu katakan pada ku, entah mengapa kali ini aku berani mengatakan hal yang berlawanan dengan ibu.
Percakapan itu ku sudahi saja dan aku masuk ke dalam kamarku,aku merasa bersalah tetapi hatiku berisi keras mempertahankan cinta ku ini pada nya.
Hari berlalu, dan aku pun harus kembali ke semarang untuk meneruskan pekerjaan ku yang ku tunda untuk cuti.
Sebelum aku berangkat ibu berkata, tak bisakah kamu tinggal di rumah bersama ibu dan bapak?
Sebenarnya ibu tahu jawaban ku, tetapi tetap ibu ku mempertanyakan itu pada ku.
Adek akan kembali dan tinggal di kampung bu, tetapi tidak untuk saat ini.
Adek sudah menentukan tujuan adek, dan adek tidak akan merubah apapun dari tujuan adek.
Jelasku pada ibu ku, dan aku berpamitan untuk kembali ke semarang.
Penolakan semakin kuat, hingga seluruh keluarga besar ku mulai ikut dalam pertempuran ini, dari larangan bersamanya hingga menjodohkan aku dengan pilihan mereka, aku diam dan tetap mempertahankannya pernah suatu waktu dia berkata padaku, lepaskan papa jika mama tidak sanggup melangkah lagi.
Mungkin benar yang orang tua mama katakan, lebih baik dengan pilihan mereka daripada papa.
Semua kenangan saat kita bersama biarlah menjadi kenangan yang terindah dalam hidup kita mam.
Aku terdiam, ku lihat pisau di dekat ku. Papa mau tau jawaban mama?
Ku ambil pisau dan ku arahkan ke jantungku, sambil menangis aku berkata bilang sekali lagi pap maka semua keinginan papa terkabul, semua akan jadi kenangan kita berdua pap.
Air mata ku tak bisa ku tahan, hati ku sakit mendengar kata kata itu, aku mempertahankannya dengan nyawa ku.
Aku sangat serius, aku tidak main main dengan hati ku.
Dengan lembut dia memegang ujung pisau yang mengarah ke jantungku, dia mengambil perlahan pisau sambil memeluk ku.
Maafkan papa sayang, bukan itu maksud papa, jika mama nggak sanggup papa terima kalau mama ikuti keinginan orang tua mama.jelas nya pada ku
Papa memang bukan yang pertama, tetapi papa yang terakhir bagi mama.
Mati pun mama ikhlas lahir batin jika itu yang harus mama tanggung.
Ini keputusan mama pap, tolong jangan pergi dan tinggalkan mama sendiri.
Tagis ku mulai mereda, dala pelukanya semua terasa damai, nyaman dan tenang.
Lalu bagaimana jika semua semakin tak terkendali mam?tanya dia pada ku.
Mama pergi dari rumah, mama mohon papa menjaga mama karena mama sadar saat mama pergi dari rumah maka semua perlindungan dan bantuan dari mereka akan hilang.
Yang mama punya hanya papa, begitu ucap ku meyakinkanya.
Papa janji akan menjaga mama, lindungi mama.ucapnya pada ku.
Makasih papa, jawabku singkat sambil memeluk erat tubuhnya.
Maram itu kami berusaha menghibur diri, melupakan hal yang sedang kami alami.
Di tengah percakapan papa berkata, yuk ke makam sunan kalijaga kita nyekar ke sana mam sambil refreshing.
Aku mengiyakan permintaanya dan kami pun meluncur ke Demak tepatnya ke makam Sunan Kalijaga.
Setelah nyekar tak sengaja aku melihat orang jualan cincin, pap beli cincin yuk,pinta ku.
Kami membeli cincin sepasang dan kami bawa pulang, saat melewati masjid Agung Demak tiba tiba papa memarkirkan kendaraan dan mengajak ku ke alun alun Demak,yang letaknya persis berhadap hadapan dengan masjid Demak.
Kami duduk di salah satu bangku yang tersedia, papa meminta cincin yang tadi beli dan berkata, mama di depan masjid Demak ini papa meminang mama menjadi istri papa.
Bersediakah mama menjadi istri papa dunia akhirat? Tanya papa pada ku.
Bersedia pap, jawabku
Bersedia pap, jawabku
Lalu papa tanya kembali padaku, Bersediakah mama selalu menjadi istri papa baik dalam suka,duka,susah,senang ?
Bersedia papa,jawabku kembali.
Lalu dengan lembut diapasangkan cincin di jari ku dan aku pasangkan juga cincin di jarinya.
Sekarang mama istri papa, meskipun belum resmi.
Kita tinggal menunggu restu dari kedua orang tua mama.
Papa tidak akan tinggalkan mama.
Begitu ucapnya.
Hati ku terasa terbang ke awan, mendengar ucapannya,aku memeluk erat tubuh nya dan mengucapkan " Terimakasih papa "
Other post
Terimakasih dan
Salam Hangat
Rumi

No comments:
Post a Comment
Terimakasih atas kunjungannya.
Salam hangat
Rumi